Login with Twitter using PHP by CodexWorld

BATIK DIPLOMACY

OEY SOE TJOEN, DUTA BATIK PERANAKAN

30 March 2017

        Nama sohor Oey Soe Tjoen menggoda kami untuk menyusur Kedungwuni. Sebuah kecamatan yang berjarak 30 menit berkendara dari pusat kota Pekalongan. Papan nama lusuh bertulis “Batik Art” hampir terlewat dari pandangan. Melabeli sebuah bangunan tembok tanpa pagar di deretan pertokoan lawas. Tak ada aroma batik sama sekali. Sempat ragu. Sebelum akhirnya seorang penjaga toko kelontong di sebelah bangunan memberi pencerahan. Tak sampai lima menit, seorang wanita muncul dari balik pintu. Wanita yang wajahnya sudah kami kenali lewat foto-foto di buku “Oey Soe Tjoen: Duta Batik Peranakan”. Dia Oey Kim Lian atau Widianti Widjaja. Generasi ketiga yang menjadi penerus usaha batik tulis motif peranakan Oey Soe Tjoen. Tidak ada galeri. Pun tak ada workshop. Hanya ada ruang berantakan dengan tumpukan kain batik belum jadi i beberapa sudut. “Saya ngga punya stok, ini masih proses tapi sudah punya orang semua,” ujar Widianti sambil menunjuk kain-kain yang jumlahnya tak lebih dari selusin.                 

        Pembuatan satu helai kain batik tulis Oey Soe Tjoen membutuhkan waktu lebih dari dua tahun. Tak heran jika pemesan harus rela mengantre minimal tiga tahun untuk mendapatkan batik yang khas dengan motif hokokai berwarna cerah ini. Banyaknya kolektor dan pecinta batik yang menaruh minat membuat Widianti mengatur strategi. Membatasi pesanan maksimal dua lembar. Bahkan sempat menutup layanan pesan lantaran panjangnya daftar pemesan. Baru awal tahun ini buka lagi. Itupun dengan catatan baru bisa masuk jadwal proses pembuatan di tahun 2019. Tulis saja nama di buku, jangan sampai salah nomor telepon, karena duat tahun lagi baru kami hubungi. Setelah itu pesanan akan kami proses dalam tiga tahun. Jadi kira-kira kalau pesan sekarang, batiknya jadi tahun 2022,” ujar wanita yang melepas batiknya Rp 25 juta perlembar ini.                 

        Widianti memegang mandat keluarga. Tak mau kompromi dengan kualitas. Semua detail motif dan proses harus sama dengan karya-karya yang dirintis kakeknya sejak tahun 1925. Di mas jayanya, dengan 150 pembatik, kakeknya mampu memproduksi 30 lembar kain per bulan. Mungkin hanya dia yang saat ini masih mempertahankan batik tulis dengan pencantinga bolak balik di kedua sisi kain. Yang satu lembar kain perlu goresan canting dari minimal enam pembatik dengan spesialisasi berbeda-beda.                

        Hanya tersisa 17 pembatik yang mampu mempertahankan kualitas batik Oey Soe Tjoen. Yang masing-masing memiliki keahlian memaminkan jenis canting. “Paling hanya 2 atau 3 orang saja yang sanggup membuat motif-motif paling rumit,” ujar wanita 40-an tahun itu. Faktor sumber daya pembatik menjadi kendala utama. Ulah seorang konglomerat bahkan sempat memantik frustasi. Lebih separo pembatik kepercayaannya hendak diboyong ke Ibu Kota. “Pengusaha ini tadinya belajar motif Oey Soe Tjoen ke pembatik lain tapi tidak bisa sama motifnya, lalu diam-diam mau mengambil pembatik-pembatik utama saya,” ujarnya. Widianti sekuat tenaga mempertahankan pembatik andalannya. Yang terpikir hanya membajak balik mereka dengan upah setidaknya sama dengan tawaran sang pengusaha. “Semua akhirnya kembali ke saya,” ujarnya.               

        Regenerasi pembatik menjadi sesuatu yang hampir mustahil di mata Widianti. Yang ada saat ini ia anggap sebagai generasi akhir yang akan menghasilkan karya-karya pamungkas Oey Soe Tjoen. Tahun 2025 menjadi fokus perjuangannya. Dengan hitung-hitungan sederhana, di mana mungkin pembatik-pembatiknya sudah mulai pensiun, ia merencanakan pameran perpisahan. Tepat 100 tahun perjalanan pabrik batik Oey Soe Tjoen. Ada sekitar 50-an kain lawas peninggalan leluhur yang siap ia pamerkan. Juga beberapa kain kreasi anyar yang sengaja ia kumpulkan sejak tiga tahun terakhir. “Setelah itu saya tidak tahu lagi apakah masih bisa produksi atau tidak.” Kalimat itu terdengan begitu frustasi. Bak senjakala batik tulis bercitarasa tinggi yang benar-benar tak mampu lagi mengambil napas.


Sampai jumpa di 2025!

Follow Us on Instagram